Pembinaan dan penyamaan pemahaman kepada semua ASN dari Kementerian Agama Kabupaten Magelang

Oleh Muhamad Novianto Dwi kurniawan
Mahasiswa Prodi PAI STAINU Temanggung, Aktivis Pena Aswaja

Sebagai kunci majunya pendidikan, guru harus merdeka seutuhnya, baik secara profesi, aktivitas pembelajaran, gaji, maupun nasib mereka. Percepatan untuk memajukan pendidikan penting, apalagi di tengah pandemi seperti ini guru-guru dituntut untuk merdeka dalam pembelajaran, dari aspek filosofis maupun teknis. Salah satu problem urgen hari ini adalah pembelajaran daring yang dilaksakan di rumah masing-masing.

Belajar dari Rumah (BDR) memberikan gambaran dengan jelas bagaimana beratnya tugas seoarang guru. Selama ini, sebagian besar orang tua murid sangat kewalahan dalam menggantikan sosok guru saat mendampingi anak-anaknya saat belajar di rumah. Mulai dari sulitnya mengatur waktu, menghadapi kenakalan anak, sinyal, dan sulitnya menyampaikan materi dari setiap pelajaran yang tidak mereka kuasai. Tidak semua orang tua mampu menggantikan peran guru yang begitu sulit.

Namun, tugas guru yang begitu berat dan mulia, belum mendapat posisi layak dalam kehidupan. Menjalani profesi sebagi guru menjadi pekerjaan yang masih begitu mengerikan. Selain masalah kesejahteraan bagi guru swasta, bisa kita lihat fenomena belakangan ini, begitu sering terjadi peristiwa kekerasan menimpa mereka, baik secara fisik maupun psikis.

Sudah tak terhitung berapa banyak orang tua (wali murid) mengancam, mengintimidasi, bahkan memenjarakan guru. Hanya karena persoalan sepele, seperti teguran atau sekedar mencubit, mereka tidak segan untuk melaporkan guru pada polisi untuk diproses secara hukum.

Hal ini terjadi karena, sebagian besar dari orang tua tidak memiliki kesempatan untuk mendidik anak saat di rumah. Sehingga, mereka tidak merasakan dan memahami dengan betul pekerjaan berat seorang guru dalam mendidik anak. Para orang tua tidak mengerti bagaimana sulitnya mendidik. Bisa jadi, ketika posisi mereka ditukar dengan profesi guru, juga akan melakukan hal yang sama, atau bahkan mereka akan bertindak lebih kejam saat menghadapi kenakalan murid di sekolah.

Problem BDR
Selama beberapa bulan BDR ini berjalan, banyak sekali orang tua yang mengeluh. Mereka mengaku kewalahan saat menghadapi anak-anaknya ketika belajar, bahkan banyak orang tua tidak sempat mendampingi anak mereka karena kseibukannya, kurang sabar menghadapi kebandelan dan lain sebagainya.

Belum lagi bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan, pasti akan menjadi beban tambahan bagi mereka. Begitu pula dengan para murid, mereka mengatakan kalau ternyata. orang tuanya lebih kejam dari gurunya selama ini. Jika disuruh memilih mereka mengaku lebih nyaman untuk belajar di sekolah bersama guru.

Dari kejadian ini, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana beratnya pekerjaan seorang guru. Orang tua yang hanya menghadapi satu dua anaknya saja begitu kesulitan, lalu bagaimana dengan guru, setiap hari mereka mendampingi puluhan, bahkan ratusan murid. Bisakah kita membayangkan hal itu? Sanggupkah kesabaran kita menghadapi kenakalan murid, dengan berbagai latar belakang keluarga, yang pastinya memiliki karakter berbeda pula. Tentu, tidak akan semua orang sanggup melakukannya.

Tidak cukup sampai di sini. Ketika kita memahami dengan betul tugas seorang guru, kewajibannya tidak hanya sekadar mendidik, akan tetapi, ada tugas lain yang lebih komplek, seperti, mengerjakan administrasi, menyiapkan materi, membuat soal ujian, melakukan penilaian, mengisi raport dan lain sebagainya.

Sudah pasti hal itu akan membauat kita pusing tujuh keliling. Hal ini seharusnya membuat kita sadar, betapa hebatnya seorang guru, yang selama ini mampu melakukan semua hal tersebut. Pantaslah jika guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Memerdekakan Guru
Di balik tugas yang begitu berat dan mulia tersebut, profesi sebagai guru masih dipandang sebelah mata. Bahkan, kini guru seakan dilecehkan dengan adanya beberapa kasus diskriminasi terhadap guru, seperti contoh kasus yang terjadi pada pembina pramuka di Sleman. Atas kesalahannya ia di perlakukan secara tidak manusiawi.

Hal ini bukan berarti kita mebenarkan kesalahan tersebut, akan tetapi, mereka juga manusia biasa, tempat salah. Kita juga tidak boleh melupakan jasa-jasanya selama ini, jangan dianggap seakan kesalahan sekali lalu dapat menghapuskan pengabdiannya selama ini, dan menganggapnya sebagai penjahat.

Selain itu, masih banyak contoh kasus yang terjadi pada guru, padahal merekalah yang selama ini dengan tulus ikhlas mengabdikan dirinya untuk mendidik anak-anak kita. Di tengah kesibukan orang tua bekerja, guru mencurahkan tenaga, pikiran dan waktunya untuk mengajar, dengan gaji tak seberapa, yang mungkin cukup untuk sekadar uang transpot. Tapi kadang pemerintah sendiri belum bisa melindungi nasib guru.

Dengan alasan kekerasan mereka dipenjarakan, dengan dalih melanggar HAM, hak mereka dihilangkan, dan dengan pasal perlindungan terhadap anak guru tidak mendapat perlindungan. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita untuk memerdekakan guru dari hal-hal tersebut. Hargai profesi guru, berikan hak-hak mereka.

Pemerintah sudah seharusnya bisa melindunginya, baik dari kesjahteraannya, naikan gaji guru, beri upah yang selayaknya, seperti halnya buruh mendapat gaji UMK. Bagi orang tua, hargai guru jangan sampai ada lagi peristiwa orang tua memenjarakannya, akan tetapi, cari tahu apa kesalahan anak kita. Bagi masyarakat, mari besama melindungi guru, dan menyambutnya dengan hangat kehadirannya di tengah kita.

Tujuan memerdekakan guru itu tak sekadar untuk guru, namun jelas berdampak kepada siswa, wali murid, dan masyarakat. Hal itu sesuai misi memajukan pendidikan, karena kemajuan pendidikan menjadi kunci Indonesia bahagia.

Tinggalkan Komentar