Temanggung, Hariansemarang.com – Nyadran merupakan suatu budaya leluhur tanah Jawa yang dilakukan tiap tahun, di beberapa wilayah bisa dilaksanakan sebanyak 3 kali dalam setahun, namun lazimnya dilaksanakan sebanyak 2 kali dalam setahun, yakni pada bulan Safar dan bulan Sya’ban dalam tahun Hijriah, tak terkecuali warga dusun Bugen desa Geblog Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung.

Mereka pada kesempatan hari ini Jum’at, 17 April 2020 melaksanakan kegiatan nyadran namun dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yakni jika biasanya mereka berkumpul di satu tempat yaitu makam, namun karena anjuran pemerintah mengharuskan untuk tetap stay at home maka kegiatan ini dilakukan di teras rumah masing-masing.
Slamet Sutikno kepala dusun Bugen menuturkan bahwa jangan sampai karena pandemi ini menghalangi kita untuk melakukan tradisi nyadran ini, namun juga dilaksanakan dengan teknis yang berbeda dengan tahun sebelumnya, karena memang tujuannya adalah untuk merti dusun, mengirim do’a untuk para leluhur di Dusun Bugen.
“Jangan sampai masa pandemi covid-19 ini menghilangkan apa yang menjadi tradisi kita selama ini, namun kami juga memikirkan bagaimana teknis nyadran ini agar tetap mendapatkan esensi dari nyadran ini, kami melihat pula tujuan nyadran ini kan untuk merti dusun serta kami juga melakukan kegiatan pengiriman do’a untuk para leluhur kami yang telah Allah SWT panggil.” Ujarnya.

Sementara itu Siti Yulaekhah salah seorang warga Bugen menuturkan bahwa meskipun nyadran tahun ini berbeda dengan tetap di rumah harapan akan kebersamaan, kekeluargaan dan niat terhadap mengenang roh nenek moyang tetap terlaksana.
“Menurut saya, nyadran bisa dilakukan dengan di depan rumah yang penting melakukan atau melaksanakannya guna menghormati roh nenek moyang, yang utama kan niat dan doa’nya, saya pun berharap dengan adanya nyadran ini semoga semakin bertambahnya kerukunan serta kebersamaan demi mencapai keharmonisan hidup juga semoga semua masyarakat diberi kesehatan selalu,” tuturnya.

Di sisi lain Yulian Wahyu Aji salah seorang warga yang juga melakukan kegiatan ini memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada pemerintah dusun Bugen dan masyarakat yang tetap melestarikan warisan budaya leluhur walaupun dalam masa seperti sekarang ini, ia juga berharap agar nantinya semua masyarakat bisa saling bahu membahu dalam mewujudkan kerukunan dan keharmonisan hidup.

“Luar biasa sekali, saya sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pemerintah dusun Bugen yang telah memberikan solusi di tengah pagebluk ini agar warisan budaya leluhur ini tetap berjalan dengan teknis yang menurut saya tidak menyalahi budaya walaupun memang tidak ada yang pernah menyalahi sih. Kalau bicara teknis itu ngga penting ya, tapi substansi dari nyadran inilah yang harus kita lihat dan kita capai bersama, saya berharap nyadran model stay at home ini hanya kali ini saja, untuk nyadran-nyadran selanjutnya sudah normal kembali seperti biasa, dan semoga dengan adanya kegiatan seperti ini masyarakat kembali tergugah rasa kerukunannya, kekeluargaannya dan rasa ngemong resonya antara satu sama lain terutama pada masa-masa pagebluk seperti ini, ya harus bisa saling asah, asih dan asuh gitulah.” Pungkasnya saat dihubungi via WhatsApp pada Jum’at pagi. (HS33/YWA/lpmgrip)

Tinggalkan Komentar