Semarang, Hariansemarang.com – Ribuan orang insya Alloh hadir dalam acara ngaji bareng Gus Baha’, Gus Ghofur dan Gus Ubaid di Kantor PWNU Jateng Jl dr Cipto 180 Semarang, Sabtu 7 Maret 2020 pukul 19.30 Wib. Rangkaian acara hari lahir (harlah) ke-97 Hijriyah Nahdlatul Ulama tersebut juga dihadiri pengurus PWNU Jateng, Badan otonom, dan lembaga tingkat Wilayah.

Pada acara harlah tersebut PWNU Jateng melaksanakan selama sepekan dimulai seminar tanggal 2 Maret yang lalu dan puncak acara adalah NU Jateng Bersholawat di Simpang Lima Semarang pada hari Ahad 8 Maret 2020 jam 19.30 wib.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng HM Muzamil menyampaikan rasa syukur terimakasih kepada segenap warga NU, jajaran pengurus NU dan jajaran pemerintahan Propinsi Jawa Tengah dan berbagai pihak yang ikut hadir dan mendukung acara harlah tersebut.

“NU adalah organisasi keagamaan Islam ala ahlussunah wal jama’ah dan kemasyarakatan, sehingga bidang khidmahnya sangat luas seperti pendidikan, dakwah, sosial budaya, dan bahkan ekonomi”, tegasnya ketika ditanya awak media, Jumat (6/3/2020).

Lebih lanjut ia mengatakan, paham keagamaan NU dibangun berdasarkan Al-Qur’an, Al-Hadits, ijma’ dan Qiyas.

Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah Wahyu Allah SWT yang telah diturunkan melalui Malaikat Jibril alaihi salam kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang kemudian disampaikan kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan diteruskan para pengikutnya alim ulama hingga sampai kepada umat.

“Justru untuk mencapai pemahaman sebagaimana pemahaman Nabi, NU menggunakan metode ijma’ dan qiyas dalam memahami dan mempraktekkan ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits”, urainya.

Kalau tidak menggunakan ijma’ dan qiyas, lalu memakai metode apa dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits? Kedua metode itu lah yang telah disepakati oleh jumhur ulama. Memang ada metode lain seperti maslahah mursalah, istihsan, urf dan sebagainya. Namun masih ada perbedaan diantara para ulama dalam menggunakan metede-metode itu.

“Karenanya kita harus bermazhab kepada imam madzhab yang muktabar. Kalau kita tidak bisa langsung mengikuti imam madzhab yang muktabar karena keterbatasan kita dalam membaca dan menelaah kitab-kitab-nya, kita ikuti ulama yang setiap hari menelaah kitab-kitab-nya. “Jadi hanya dengan cara itu, insya Alloh, kita bisa selamat dan bahagia lahir batin, berakhlak mulia dalam beribadah kepada Allah SWT”, ujarnya.

Ia menambahkan, kalau belum bisa dekat kepada Alloh ya berkumpul kepada ulama yang mampu mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Jangan menyendiri dari kehidupan ulama. Alhamdulillah, NU selalu dipimpin oleh para ulama”, tegasnya. (HS99/Am).

Tinggalkan Komentar