Semarang – Generasi Baru Indonesia (GenBI) Semarang yang terdiri dari Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga didukung oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah mengadakan capacity building dengan tema  “Transforming to Excellent” untuk memberikan pembekalan kepada GenBI mengenai pelaksanaan tugas Bank Indonesia secara keseluruhan sekaligus guna meningkatan kemampuan public speaking anggota GenBI Semarang. Acara capacity building dibuka dengan sambutan Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Jawa Tengah yang kemudian dilanjutkan dengan penampilan bakat tari yang memukau dari mahasiswa GenBI.

Acara pun diwarnai dengan sesi sharing mengenai “Ekonomi Digital” dan “Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah (CIKUR)” dari Bank Indonesia. Dalam sesi ini, Bank Indonesia memaparkan materi mengenai Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) sekaligus mengenai Quick Respond Indonesia Standard (QRIS) yang saat ini digunakan untuk melakukan pembayaran berbasisserver. Selain itu, GenBI juga memperoleh materi mengenai CIKUR sehingga kedepannya mahasiswa GenBI dapat mengetahui cara mengenali uang Rupiah yang asli dengan memperhatikan fitur pengamannya. Sesi sharing ini bertujuan agar kedepannya GenBI dapat menjadi garda depan Bank Indonesia dalam melakukan sosialisasi kebijakan Bank Indonesia kepada masyarakat.

Acara ini juga diisi dengan kegiatan pemilihan ketua GenBI Semarang periode 2019/2020 yang berlangsung dengan semangat, terlihat dari raut wajah para calon ketua dalam menyampaikan orasi visi dan misinya serta antusiasme para mahasiswa GenBI yang melakukan pemilihan.
Pada sesi siang, hadir pula salah satu trainer professional Mahmud Kuncahyo mengemukakan pendapatnya soal kemampuan yang wajib dimiliki manusia.

Menurutnya, banyak orang yang pandai menuangkan idenya dalam tulisan tetapi tidak semua orang pandai dalam menyampaikan gagasan. Padahal era abad 21 keterampilan yang wajib dikuasai manusia adalah keterampilan dalam berbicara. “Sebagai mahluk sosial seni berbicara  sangat penting, apalagi ketika kita wawancara kerja, kita harus bisa menjelaskan dan meyakinkan user atau lembaga yang dilamar mengenai kemampuan yang kita miliki. Minimal apa yang kita sampaikan dapat didengar dan dipahami dengan baik,” katanya saat menjadi pembicara capacity building GenBI di Ruang Lokapala lantai 8 Gedung Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Rabu (28/8).

Lebih lanjut, Makhmud menjelaskan tahapan public speaking adalah tahapan pra presentasi. Makhmud menyebutkan ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam tahap presentasi diantaranya Mental, Materi, dan Fisik.

Makhmud menyampaikan, hal yang harus dipersiapkan sebelum berbicara di depan publik adalah mental. Banyak orang merasa takut untuk berbicara, alasan ketakutan tersebut diantaranya takut salah atau keliru, takut ditanya, takut tidak bisa menjawab, takut lupa, takut audience lebih pintar, dan juga takut dipermalukan. “Ada banyak alasan ketakutan seorang pembicara, namun alasan terbesarnya adalah takut tidak didengarkan audience”, jelasnya.

Makhmud juga memberikan beberapa cara mengatasi rasa takut. Diantaranya dengan mengatur pernapasan, merubah bahasa tubuh, pemanasan, anchoring (mengingat sesuatu yang tentunya posisif dan bisa disampaikan dalam forum), dan juga podium survey.

“Sebagai seorang pembicara, maka kita harus bisa meminimalisir ketakutan kita sendiri dengan cara menutupi atau mengubah fokus audience,” ujarnya.

Mahkmud menambahkan, hal lain yang perlu disiapkan adalah materi sebab tanpa adanya materi, seorang pembicara akan bingung dengan apa yang akan disampaikan. Makhmud juga mengajak audience untuk memahami unsur 5W + 1H dalam setiap materi, bukan menghapalkan materi.

“Jangan pernah menghapalkan materi namun pahamilah, sebab jika kita paham kita bisa menjelaskan, namun saat kita hafal materi tersebut akan hilang,” tambahnya.

Makhmud juga menjelaskan bahwa fisik hal yang harus diperhatikan dalam public speaking. Sebab penampilan yang rapi, elegan, dan wangi cenderung akan menjadikan audience fokus melihat ke arah pembicara.

” Ajining diri soko lathi, ajining rogo Soko busono, maka ketika kita ingin didengar, kita juga harus perhatikan penampilan,” jelasnya

Di akhir materi Mahkmud mengungkapkan, bahwa kunci keberhasilan public speaking terletak pada kepercayaan diri.

“Percayalah pada dirimu bahwa kau bisa berbicara, maka orang akan percaya,” katanya mengakhiri. (Siti Rohmah) 

Tinggalkan Komentar