Hariansemarang.com – Calon wakil gubernur Jawa Tengah Ida Fauziyah mengajak ratusan ibu-ibu di kabupaten Kudus untuk bisa menjawab tantangan zaman yang terus berubah.

Ajakan itu disampaikan dalam “Ngaji Bareng Ida Fauziyah” di kompleks Gedung Muslimat NU Kudus, Jumat (1/6/2018).

“Tantangan zaman terus berubah. Ini tentu menjadi peringatan bagi kita sebagai orang tua, maupun warga negara,” ujar Ida Fauziyah.

Menurut Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU ini, kemampuan menjawab tantangan zaman itu sangat penting untuk untuk menyiapkan generasi penerus ke depan.

“Yakni menyiapkan anak-anak yang akan membuat sejahtera lahiriah, maupun batiniah,” terangnya.

Pasangan Sudirman Said dalam Pilgub Jateng ini menegaskan, saat ini sudah masuk pada era teknologi. Siapapun bisa belajar dan mencari informasi dengan mudah.

“Ini tentu bisa berpengaruh positif maupun negatif pada generasi penerus kita,” sebutnya.

Peran ibu, jelas Ida, adalah memantau dan memberikan pengarahan pada anak-anaknya akan era teknologi ini.

“Karena yang mampu mendeteksi awal akan pengaruh-pengaruh teknologi itu tentu orang tua, keluarga sendiri,” terangnya.

Mantan ketua umum Fatayat NU ini mencontohkan, dalam sebuah mesin pencarian internet, bisa diperoleh juga pendidikan agama.

Namun apakah paham agama yang diajarkan di internet itu benar atau menyimpang, masih perlu dikaji lagi.

“Tentu jika orang tuanya paham teknologi dan kuat paham keagamaannya, akan bisa memberikan penjelasan yang benar bagi anak-anaknya,” paparnya.

Dengan penjelasan itu, lanjut Ida, bisa meminimalisir anak-anak ke depan tidak terjebak dalam paham-paham radikal yang terkadang berujung pada aksi nekat, seperti teror bom.

“Atau juga terpengaruh aksi kekerasan, hingga pornografi. Karena dalam internet, akses untuk hal-hal negatif ini juga ada,” jelasnya.

Orang tua, kata Ida, merupakan ujung tombak dalam mengarahkan anak-anaknya. Guru maupun sekolah tempat anak menempa ilmu, terbatas waktunya.

“Guru di sekolah tidak bisa sendirian mendeteksi perilaku anak-anak. Kecuali mereka yang punya hubungan-hubungan khusus, yakni orang tua,” bebernya.

Atas dasar itu, sebelum menyiapkan generasi yang unggul, jelas Ida, orang tua juga harus punya bekal yang cukup, baik pendidikan maupun kesehatan.

“Namun ternyata pendidikan di Jawa Tengah ini menunjukkan rata-rata belum lulus SMP. Apalagi kaum perempuan, lebih rendah lagi,” paparnya.

Akar dari rendahnya pendidikan itu, jelas Ida, tak lain adalah kemiskinan. Di Jawa Tengah, angka kemiskinan masih mencapai 12,23 persen.

“Karena itu pak Sudirman Said dan saya berkomitmen untuk menurunkan anga kemiskinan ini. Yakni menjadi 6 persen dalam waktu lima tahun,” tandasnya. (red-HS33/haris).

Tinggalkan Komentar