Temanggung, Hariansemarang.com – Jembatan sungai atau kali Progo yang menghubungkan antara Kecamatan Kranggan dan Temanggung, Rabu (21/2/2018) malam roboh. Warga menduga, robohnya jembatan bersejarah itu tidak hanya faktor hujan lebat, namun karena usia yang memang sudah tua.

Sungai Progo merupakan sungai yang mengalir dari mata air Umbul Jumprit di lereng Sindoro kawasan Kecamatan Ngadirejo, Temanggung dan bermuara di laut selatan Jogjakarta. Jembatan itu, merupakan saksi bisu pembataian masyarakat sipil dan non-sipil Temanggung yang dulu dibantai oleh penjajah Belanda.

Robohnya jembatan Progo, menyedot perhatian publik, Salah satu warga, Yudha (45) menuturkan bahwa robohnya jembatan sungai Progo Kranggan itu karena hujan lebat. “Ya karena hujan lebat tadi malam itu. Tapi menurut saya kok ini karena usia jembatan yang memang sudah lama, wajar saja roboh,” katanya, Kamis (22/2/2018) pagi saat di lokasi.

Ia menambahkan, jembatan itu menjadi sejarah karena dulu pernah dijadikan rel kereta api. “Konon, menurut mbah saya di sini dulu adalah rel dan banyak pembantaian saat zaman penjajahan. Sempat terjadi banjir juga di sini dan jembatannya tetap kokoh. Tapi tidak tahu kenapa kok tadi malam roboh,” beber dia.

Pantauan di lapangan, robohnya jembatan legendaris di Temanggung ini menarik perhatian warga dan pengguna jalan. Apalagi, lokasi jembatan berdekatan dengan taman makam pahlawan dan penjual durian yang dimanfaatkan warga untuk foto-foto melihat jembatan.

Pengguna jalan asal Magelang, Siti Rohman (22) mengatakan tertarik mengambil foto di sisi jembatan ngropoh itu. “Banyak yang ke sini, saya kira ada apa gitu, ternyata jembatan roboh,” beber dia.

Ia bersama dua temannya juga memanfaatkan hal itu untuk foto-foto dan melihat kondisi sekitar jembatan.

Sampai berita ini ditulis, Kamis (22/2/2018) pagi, banyak sekali warga ke lokasi dan juga sejumlah relawan SAR, petugas keamanan untuk mengecek kondisi jembatan. (hs10)

Tinggalkan Komentar