Jakarta, Hariansemarang.com – Hampir pada semua rekaman sejarah tertulis bahwa pria memegang sebagian besar posisi sebagai penguasa tertinggi. Namun karena berbagai alasan, ada beberapa pengecualian sehingga akhirnya tampuk kekuasaan dapat dipegang oleh wanita, walaupun jumlahnya tidak banyak. Ada sebagian dari mereka yang dapat memegang kekuasaan hanya karena tidak adanya keturunan pewaris laki- laki dan ada pula yang memang menggantikan kekuasaan sebelumnya. Pada abad ke- 16, di Indonesia dan Skotlandia pernah dipimpin oleh seorang wanita yang sangat tangguh dan berhasil membangun citra populernya sebagai sosok heroik dalam sebuah tragedi yang dramatis. Adalah seorang wanita bernama Keumalahayati, wanita tangguh asal Aceh kelahiran tahun 1585.
Dia merupakan laksamana (panglima perang) perempuan pertama dalam sejarah Angkatan Laut Indonesia dan dunia pada masa pemerintahan Sultan Al Mukammil (1589- 1604). Setelah kepergian suaminya di medan pertempuran, Keumalahayati mendapat kepercayaan menjadi orang nomor satu dalam tentara kesultanan karena karena keberhasilannya memimpin pasukan wanita. Meskipun Ia seorang perempuan, tentara-tentara dan para Jenderal menghormatinya, di mana dia telah membuktikan dirinya sebagai Komandan tempur yang terkenal kehebatannya dalam pertempuran melawan Portugis dan Belanda.
Ratu Elizabeth I pernah mengutus James Lancaster menemui Sultan Aceh, yang kemudian bernegosiasi dengan Keumalahayati. Hasil dari negosiasi adalah perjanjian pembukaan rute kapal dagang Inggris ke Jawa yang disusul dengan pembukaan kantor cabang Inggris di Banten. In adalah bukti bahwa selain bertempur, Keumalahayati juga cakap dalam berpolitik dan bernegosiasi. Keumalahayati tewas dalam peperangan melawan Portugis di Teluk Krueng Raya. Di dunia, nama Laksamana Keumalahayati sering disebut sebagai satu dari 10 Pejuang Wanita Terbaik, dan satu dari tujuh Panglima Perang Wanita dalam sejarah.
Jika di Indonesia sejarah mengenal Keumalahayati sebagai pahlawan wanita dari abad ke-16, di Skotlandia sejarah menceritakan tentang Mary Stuart yang dikenal dengan sebutan Mary Queen of Scots yang lahir pada tahun 1542 dan wafat pada tahun 1587. Pada abad ke-14 semasa pemerintahan Robert II Skotlandia, telah ditentukan bahwa Mahkota Skotlandia harus diberikan kepada pria dalam garis keturunannya, namun disebutkan juga bahwa wanita dapat dinobatkan bila tidak ada keturunan pria yang dapat mengisi tahta tertinggi tersebut. Pengecualian itu akhirnya menjadi kenyataan karena pada saat Mary berusia enam hari, ayahnya, James V, meninggal dunia dan tidak ada lagi garis keturunan pria dari Robert II, sehingga tahta tersebut langsung diturunkan kepada Mary. Kehidupan kerajaan sudah pasti melibatkan politik, dan Mary Queen of Scots tidak terhindar dari hal ini.
Pada awal usia enam tahun, dia dinikahkan dengan Dauphin dari Perancis untuk mendapatkan aliansi kedua negara. Kepemimpinan Mary sebagai ratu Skotlandia, merupakan salah satu monarki yang paling menarik, bahkan kontroversial di Eropa pada abad ke-16. Dalam masa pemerintahannya, ia mengklaim mahkota dari empat negara, yaitu Skotlandia, Prancis, Inggris, dan Irlandia. Tidak hanya kemampuan politiknya yang disegani, namun keindahan fisik dan sifat baik hatinya diakui, bahkan oleh musuh-musuhnya. Selama masa pemerintahannya, Mary berhasil menghindari perang saudara antara penganut Katolik dan Protestan. Namun di balik semua itu, Mary memiliki kisah hidup yang tragis, dan karenanya, ia menjadi salah satu bangsawan Skotlandia yang paling terkenal.Ikuti kisah kehidupan Mary Queen of Scotsdalam serial drama ReignSeason 1 tayangsetiap hari Selasa pukul 20.00 WIB. Serial drama peraih penghargaan kategori People’s Choice yang dilengkapi dengan bumbu kisahasmara, horor, pengkhianatan, dan politik ini dapatdinikmati melaluiFirst Media kanal 335 (HD) dan Transvision kanal 305 (HD). (Red=HS33/Hms).

Tinggalkan Komentar