Salatiga, hariansemarang.com – Semestinya kita bersyukur menjadi bagian dari bangsa Indonesia, lahir dan besar di negara yang besar, karena Allah memberikan karunia yang besar kepada bangsa ini. Bangsa yang memiliki keragaman suku, keragamanan etnis, budaya, agama, serta keragaman bahasa, yang itu semua tergambarkan dalam 34 propinsi 514 kabupaten/kota sehingga wajar kalau Negara Indonesia ini sarat dengan kebhinnekaan.

Hal ini disampaikan HA. Mujib Rohmat, SH, MH,  Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Golkar saat Sosialisasi empat pilar kebangsaan MPR RI dengan acara Silaturahmi dan ngaji kebangsaan di ponpes Tahfidzul Quran Argomulyo Kota Salatiga Jawa tengah, jumat (22/9/2017).

Acara yang dikuti sekitar 150 santri, mahasiswa, dewan guru, para pengasuh pondok pesantren dan pimpinan Ponpes Tahfidzul Quran Nyai Hj. Zulaikha Masitho ini disertai dengan dialog dengan para santri sehingga suasana tampak hidup dan mencerahkan.

Dalam ceramahnya mujib mengatakan bahwa bangsa Indonesia memiliki sumber daya yang beragam mulai dari laut se isinya, daratan dan yang ada didalamnya seperti minyak, emas, perak, batu bara, pertanian, perkebunan, pegunungan dan hutan yang begitu luar biasa.

“ Masih ada juga pariwisata yang beragam, mulai kebudayaan dan seni, kuliner, fashion, tarian dan lainnya, meski corak keberagaman itu begitu kental namun tetap aman, nyaman, harmonis dan rukun”, ungkapnya.

Tentu Hal ini tambah mujib,  tidak terlepas dari kecerdasan para pendiri bangsa, perumus, pemikir persiapan kemerdekaan Indonesia, yang mendasari Ideologi dan prinsip-prinsip kebangsaan ini di isi oleh orang-orang yang beragam, ada yang Islam nasionalis, Islam santri, kristen, jawa, sumatra, ada juga ambon yang semua tokoh pendiri bangsa saat itu mampu melepaskan kepentingan golongan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang berdaulat.

“dalam perspektif islam kebhinnekaan adalah takdir dan sunnatullah, sesuatu yang fitrah dari Allah yang menjadikan keberagaman akan bangsa ini, dan itu merupakan ketentuan Allah, sehingga menjaga  keragaman dan meningkatkan kualitas pendidikan menjadi bentuk Syukur kepada Allah SWT”, ujarnya.

“sebagai seorang muslim dan warga Indonesia tentu kita berkepentingan dalam merawat kebhinnekaan itu sebagai rasa cinta tanah air di lingkup pesantren terutama nahdliyin biasa disebut dengan ‘hubbul wathon minal iman’ cinta tanah air sebagian dari iman, maka sebagai santri harus mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar -al amru bil ma’ruf bi thariqil ma’ruf- yakni mengajarkan kebaikan dan dengan cara yang baik, tidak boleh memaksa kehendak orang lain, intimidasi, mencaci maki tetapi sebaliknya dakwah harus dengan kontekstual, bijak dan cara-cara yang baik atau bil hikmah”, tambah mujib.

“Oleh karena itu saya berharap kepada para santri calon-calon tokoh dan pemimpin di masyarakat kelak, untuk mengajarkan pendidikan di level apapun di masyarakat dengan cara-cara yang sesuai dengan konstitusi negara, adat dan tradisi tentunya dengan akhlaqul karimah”, tutupnya. (Red-HS/Don).

Tinggalkan Komentar