Demak, hariansemarang.com – Pondok Pesantren al-Badriyyah Mranggen Demak kembali menyelenggarakan Haflah at Tasyakkur Khotmil Al-Quran ke 41dihalaman pesantren, Sabtu (13/5/2017).

Acara ini merupakan agenda rutin setahun sekali yang dilaksanakan sebagai bentuk syukur atas prestasi santri dalam mengaji dan menghafal   al-Qur’an.

Sebagaimana diketahui, Khotmil Qur’an merupakan salah satu tradisi pesantren yang telah berlangsung berabad lama.Khotmil Qur’an di pesantren termasuk salah satu ritual sakral, sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan para santri dalam meng khatamkan al-Qur’an.

Ketua panitia penyelenggara, H. Muhammad Hamam Muhibbin, mengatakan bahwa selain sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan santri Pesantren Al-Badriyyah dalam mengikuti pembelajaran mengkaji Al-Qur’an, kegiatan Khotmil Qur’an ini merupakan wadah syiar tentang perlunya pembelajaran Al-Qur’an dan harus ditangani dengan serius.

“Alhamdulillah, semoga mengaji Al-Qur’an di pesantren ini, bias bermanfaat baik untuk para santri, keluarga dan masyarakat.Lebih dari itu, amat diutamakan agar ajaran-ajaran Al-Qur’an bias diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Sementara itu dalam mauidhoh hasanahnya, KH.Mu’in Abdurrohim mengisahkan kehidupan orang tua Imam Syafi’i yang sarat makna hikmah yang patut diteladani oleh masyarakat sekarang ini.

“Dari pasangan suami-istri yang terjaga dari dosa dan maksiat, haram dan kemungkaranini, kemudian lahir seorang anak shaleh teladan, yang bahkan dalam umur enam tahun telah hafal Al-Quran. Dialah Muhammad bin IdrisAssyafi’i yang tak lain adalah Imam Syafi’i. Itulah buah kesabaran dari ayah seorang ulama besar sepanjang masa ini. Sang ayah begitu sabar dalam menahan dan menghindari makanan yang haram, juga ibu yang selalu menjaga kesuciannya.” jelasnya

Lebih lanjut ia menjelaskan tentang peranan santri dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya santri merupakan bagian dari entitas umat Islam Nusantara boleh dikata santri merupakan wakil Umat Islam dalam proses kemerdekaan kala itu yang patuh pada petuah Ulama yang penuh nilai-nilai Qur’ani.

“Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para santri dan kiai pesantren memahami dan menerapkan betul kalimat “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman.Sehingga apapun akan merekalakukan untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun.” imbuhnya.

Acara Khataman yang dimulai tepat pukul 18.30 dihadiri ulama dan kyai diantaranya KH.UlinNuha Arwani  AH, KH. Ulil Albab Arwani, AH (Kudus), KH. Muhammad Hanif Muslih, Lc, KH. Ishaq Ahmad (demak), Hj. Ishmah UlinNuha, Hj. Zuhairoh Ulil Albab, Hj. Mutammimah Harir, Hj. Jamilah Hamid, dan lain-lain. (Red-HS)

Tinggalkan Komentar