Semarang, hariansemarang.com – Kepala Ombudsman Perwakilan Jawa Tengah Achmad Zaid bersama tim mendadak mendatangi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Semarang kemarin.

Kedatangan mereka untuk mengkonfirmasi dugaan pungutan yang dilakukan pihak sekolah. Zaid ditemui langsung Kepala MAN 1 Muchlas dan Ketua Komite Baedowi. ”Sebelumnya, kami menerima adanya laporan dari orang tua pendaftar. Mereka mengaku takut untuk mendaftar di sekolah karena disodori permintaan kesanggupan membayar antara Rp 2,5 juta, hingga Rp 5 juta,” ungkap zaid sapaan akrabnya, senin (27/6).

Setelah dapat laporan saya coba cek kesini, Sebab sesuai aturan pemerintah kini tidak boleh lagi muncul pungutan untuk peserta didik. Kalau pun, kemudian muncul istilah sumbangan dari wali murid atau orang tua sifatnya tanpa paksaan. Zaid juga mengakui muncul surat Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) untuk mengatur tentang kebijakan infak bagi siswa baru yang diterima tahun ajaran ini. Namun itu merujuk pada pengertian infak, yang pelaksanaannya sukarela tanpa paksaan.

Dia pun, meminta klarifikasi terhadap persoalan ini, karena pungutan liar dilarang dalam aturan hukum manapun. ”Lebih-lebih peraturan Kementrian Agama juga menyebutkan untuk pemberian infak khusus diberlakukan untuk mereka yang sudah diterima menjadi siswa. Tetapi faktanya di MAN 1 meski mereka belum jadi siswa sudah disodori formulir seperti itu, saya peringatkan kepala sekolah untuk hati-hati” tegas Zaid.

Dia juga meminta supaya uang yang telanjur diberikan orang tua kepada sekolah untuk dikembalikan. Kepala MAN 1 Muchlas mengakui sempat muncul kesalahan pemahaman dalam menyikapi kebijakan yang dikeluarkan kementerian. Kendati demikian pihaknya sama sekali tak berkeinginan untuk menarik pungutan dalam penerimaan siswa baru. Hanya memang sempat menawarkan infak kepada orang tua siswa yang memang tak berkeberatan dan memiliki rezeki berlebih.

 

”Itu juga sudah sepengetahuan komite sekolah. Apabila memang ini dinilai menyalahi aturan kami akan membenahinya. Kami benar-benar tak ada niat sama sekali melakukan pungutan,” ucapnya.

Dia juga mengakui kondisi infrastruktur sekolah yang masih kurang bagus. Dicontohkan keberadaan kamar mandi dan WC yang butuh perbaikan. Baedowi mengakui pihaknya memang sempat menawarkan program infak itu kepada orang tua murid. Namun akhirnya sempat ditarik karena kemudian terbukti adanya kesalahan dalam pemahaman. (Red-HSS99/Ant).

Tinggalkan Komentar