Semarang, Harian Semarang – Membeli susu dan makanan bergizi bagi anak dan keluarga jauh lebih bermanfaat, namun tidak sedikit pecandu rokok yang menomorduakan kebutuhan tersebut. Seharusnya, bagi yang sudah punya momongan, harus berpikir panjang jika merokok, sebab membeli susu untuk anak justru lebih penting.

 
Kendati tahu bahwa rokok merusak kesehatan dan menyedot banyak rupiah, banyak pecandu nikotin dengan mudah menunda atau malah mengabaikan pembelian makanan dan minuman bergizi. Candu nikotin itulah yang menyebabkan konsumsi rokok tidak kunjung beringsut dari tahun ke tahun. Dari hasil cukai rokok ini pula kas negara terisi lebih dari Rp100 triliun dengan produksi lebih dari 360 miliar batang pada 2014.

 
Pasar rokok di Indonesia memang “harum” dan “gurih” karena sekitar 65 juta orang atau 25 persen penduduk negeri ini menjadi pengisap aktif asap tembakau.

 

“Bisnis menguntungkan adalah (produk) yang menimbulkan kecanduan. Orang miskin menghilangkan tekanan hidup dengan cara yang justru menimbulkan kecanduan,” ujar ekonom Universitas Diponegoro Semarang Dr Nugroho SBM.

 

Pengendalian konsumsi rokok dengan cara menaikkan tarif cukai, dinilai Nugroho, belum efektif. Apalagi dari sisi penerimaan kas negara, cukai tembakau termasuk penyumbang penting APBN. Dan, industri rokok beserta mata rantainya dari hulu hingga hilir, juga menyerap jutaan pekerja.

 

Berdasarkan hasil Susenas Gabungan Triwulan IV 2013 dan Triwulan I-III 2014, Badan Pusat Statistik mengungkapkan tingginya konsumsi rokok warga Jateng.

 

BPS menyebutkan bahwa konsumsi rokok (tembakau) dan sirih berada di peringkat ketiga terbesar untuk konsumsi kelompok makanan. Tembakau dan sirih menyedot pengeluaran sebanyak 12,2 persen dari besaran konsumsi kelompok makanan sebesar Rp313.710 per kapita/bulan pada 2014. Itu berarti konsumsi rokok dan sirih per kapita/bulan menelan Rp38.273/bulan atau lebih dari Rp400.000/tahun pada 2014.

 
Sementara itu pada periode yang sama belanja per kapita penduduk Jateng untuk telur dan susu hanya 6,27 persen atau Rp19.670/bulan. Konsumsi untuk makanan bergizi seperti ikan, udang, dan cumi juga hanya 3,78 persen. Bila konsumsi kedua jenis makanan bergizi ini digabungkan, itu juga masih lebih sedikit dibandingkan dengan konsumsi tembakau dan sirih.
Besaran konsumsi tembakau hanya kalah dari pengeluaran untuk makanan dan minuman sebesar 30,96 persen dan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan belanja padi-padian yang mencapai 15,45 persen per kapita.

 

Selain lebih memilih membeli rokok, data BPS juga menunjukkan bahwa pengeluaran untuk membeli pakaian, alas kaki, dan tutup kepala juga lebih kecil. Mereka hanya membelanjakan 6,31 persen (Rp19.507/bulan) dari total pengeluaran non-makanan. Konsumsi per kapita untuk kelompok nonpangan penduduk Jateng pada 2014 tercatat sebanyak Rp309.150/bulan atau 49,63 persen dari total pengeluaran.

 

Konsumsi tembakau dan sirih penduduk Jateng pada 2014 tersebut nyaris seimbang dengan pembelian barang tahan lama yang mencapai 13,56 persen atau Rp41.921/kapita/bulan.
Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013 ketika masih memimpin provinsi berpenduduk 34 juta jiwa ini sering menyatakan jika uang rokok bisa dialihkan untuk membeli makanan bergizi, akan memperbaiki kualitas kesehatan anggota keluarga. Yang lebih memprihatinkan, katanya, sebagian besar perokok bukan dari kalangan berpenghasilan tinggi, bahkan malah banyak yang tergolong miskin.

 

Di satu sisi pendapatan pekerja tidak mengalami kenaikan signifikan, sementara harga rokok terus naik akibat kebijakan pemerintah yang secara konsisten terus menaikkan cukai dengan maksud menekan jumlah konsumsi sigaret. Akibatnya, alokasi untuk konsumsi rokok kian membesar, sedangkan untuk kebutuhan yang lebih pokok seperti pemenuhan kebutuhan asupan makanan bergizi stagnan atau malah menyusut.

 

Data BPS menyebutkan pada 2014 kasus gizi buruk di Jateng sebanyak 2.978 dengan jumlah meninggal sebanyak 71 orang, sedangkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2015 tercatat 4,577 juta orang atau 13,58 persen dari jumlah penduduk di provinsi ini.
Kampanye bahaya rokok oleh pemerintah, ormas, lembaga swadaya masyarakat, pendidik, juru dakwah, dan lainnya sebenarnya cukup intens. Hasil yang tampak, semua orang, termasuk para perokok, tahu bahayanya. Secara kognitif sudah memberi pengetahuan bahwa merokok itu berbahaya dan membakar uang jutaan rupiah dalam jangka waktu panjang. Namun, pengetahuan tersebut tetap dikalahkan oleh hasrat yang “menagih” alias kecanduan. Apalagi iklan industri rokok begitu masif dan menusuk hingga ke dalam rumah melalui layar televisi.

 

Pendekatan Kreatif
Oleh karena itu diperlukan pendekatan kreatif di tingkat rumah tangga agar belanja rokok bisa dialihkan untuk memenuhi asupan gizi keluarga.

 

“Kalau suami perokok, istri harus bisa meyakinkan suaminya untuk mendahukukan beli daging atau telur agar gizi anak tercukupi,” ungkap dosen Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang Wulandari Megawati.

 

Suami, katanya, bisa jadi melunak ketika diberi tahu bahwa pengorbanannya itu demi mencukupi gizi anak-anaknya. “Pendekatan seperti ini lebih efektif dibandingkan dengan hanya menuntut berhenti merokok,” katanya.

 

Cara lain, tambah Wulan, buat kesepakatan bersama mengenai larangan merokok di dalam rumah sehingga konsumsi rokok bisa dikurangi. Hasil pengurangan ini bisa dialihkan untuk belanja lauk bergizi jika berhenti total merokok belum bisa dilakukan.

 

Pengalaman tersebut dirasakan oleh Nur Komsin, warga Gunungpati Semarang. Buruh bangunan ini bisa menghentikan kebiasaan merokok setelah diberi tahu istrinya bahwa anaknya kurang asupan makanan bergizi karena uang belanja kurang.┬áSetelah berhenti merokok, keluarganya lebih leluasa beli susu dan makanan bergizi untuk anaknya. “Bahkan, saya masih bisa menabung,” beber Nur Komsin yang dulu bisa menghabiskan uang hingga Rp450.000/bulan untuk beli rokok saja. (Red-HS99/Antara).

Tinggalkan Komentar