MATI: Cabai di Desa Pagerejo, Kertek, Wonosobo yang mulai layu.

Wonosobo, Harian Jateng – Musim kemarau yang terjadi tahun 2015 ini, ternyata membuat petani cabai di Wonosobo, Jawa Tengah “galau”. Apa penyebabnya? Sebab, puluhan hektare tanaman cabai di lereng Sindoro dan Sumbing terancam mati, bahkan petani sendiri memastikan cabai tersebut akan mati karena panas semakin membuat mereka layu dan alam belum juga menunjukkan akan turun hujan.

Baca juga: Warga Wonosobo Butuh Air Bersih, Ini Derita Mereka..

Di Pagerejo, Kecamatan Kertek, Wonosobo, beberapa bulan terakhir memang tidak ada hujan turun. Mereka harus sabar karena melihat tanaman cabai milik mereka tambah hari tambah layu dan satu persatu mati.

Menurut Miftah, petani cabai Pagerejo, Wonosobo, saat di temui di ladangnya, Kamis (17/9/2015), banyaknya tanaman cabai yang mati karena tidak adanya turun hujan dan panas matahari makin menyengat. Tanaman cabai milik kami, kata dia, sudah layu dan tak berkembang lagi. Karena, sudah cukup lama kekurangan air.

“Sementara, pasokan air menuju lahan kami sudah tidak bisa,”  ujar dia kepada Harian Jateng.

Selaku petani yang memiliki hektaran tanaman cabai, ia pun galau karna tanaman cabai miliknya dipenuhi denga debu. Sebagian tanaman miliknya pun layu dan daunnya kering dan mati dengan sendirinya.

Sebagai petani, memang tidak ada yang bisa dilakukan Miftah dan juga petani setempat. Sebab, pasokan air di sana sangat kurang.

“Kami bisanya hanya membiarkan tanaman itu layu dan mati dengan sendirinya,”  keluhnya.

Dari kondisi tersebut, Miftah memprediksi rugi besar, karena modal awal untuk menanam cabai memang butuh model banyak.

Sebenarnya, ia memprediksi bahwa pertengahan September 2015 ini turun hujan, akan tetapi hal itu meleset karena sampai hari ini juga belum turun hujan yang berdampak pada matinya tanaman cabai petani setempat.

Petani lain, asal Desa Candiyasan, Wonosobo, Sukur  juga mengakui bahwa musim kemarau membuat tanahnya menjadi gersang dan tanaman mulai layu. Sebab, sudah tahap berbuah, namun ia harus mengambil air dari sungai sekitar 600 meter dari sawahnya.

Pihaknya mengakui, sudah beberapa bulan saya menunggu hujan, tapi ternyata hujannya tidak turun-turun.

“Terpaksa saya harus menyiram cabai menggunakan air sungai. Sudah gitu, air sungainya pun sudah mulai mengering,” tukas dia kepada Harian Jateng.

Biasanya, lanjut dia, kami selalu mengairi cabai melalui saluran irigasi dari saluran irigasi, sebab setelah panen padi usai, mereka langsung beralih menanam cabai. Namun, kali ini ia terancam gagal menanam cabai karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. 

“Sekarang saja harga cabai terus merambat naik. Apalagi jika musim kemarau berlanjut, harga cabai akan semakin mahal,” pungkas dia. (Red-HJ13/Foto: Jamil/Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here