Para pedagang kubis saat menjajakan kubis di Wonosobo.

Wonosobo, Harian Jateng – Musim kemarau tahun 2015 ini membuat pedagang sayur kubis di Kabupaten Wonosobo panen rupiah. Sebab, harga kubis di Wonosobo terus meroket. Hal itu dikarenakan tanaman ini langka lantaran banyak lahan kering kerontang tak ada air.

Beberapa hektar lahan petani di lereng gunung sumbing, sindoro dan dieng justru ditanami tembakau daripada kubis. Akan tetapi, terlihat sedikit petani yang menanam kubis.

Hanya kisaran 30 persen petani yang memilih untuk menanam kubis dibanding menanam tembakau. Hasilnya, harga kubis juga terus mengalami kenaikan. Dari pantauan Harian Jateng, mereka lebih menanam tanaman yang bisa bertahan di musim kemarau seperti ini.

Menurut Sutris, petani asal Sojopuro, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Minggu (13/9/2015), harga kubis di sana saat ini tembus Rp. 2000 per kilogramnya. “Harganya sampai Rp. 2000 perkilonya,” ujar dia kepada Harian Jateng.

Petani tersebut juga menegaskan, harga kubis biasanya di bawah Rp. 2000 untuk musim hujan. Akan tetapi, musim kemarau tahun ini bisa tembus Rp. 2000 bahkan Rp. 3000 untuk kubis yang kualitasnya bagus.

Jika dijual Rp. 2000, menurut Sutris para pedagang sudah mendapatkan laba. “Sebenarnya jika Rp2ribu saja petani sudah untung, apalagi harganya terus naik, maka untungnya bertambah,” papar dia.

Senada dengan hal itu, Agus salah satu petani asal Keseneng Wonosobo menuturkan,ia lebih suka menanam kubis daripada tembakau. Sebab, setiap memasuki musim tembakau seringnya mengalami kenaikan seperti yang terjadi saat ini.

Kondisi pasar yang membuat harga kubis naik, memotivasi para petani kubis di Wonosobo terus menanam sayuran tersebut. Akan tetapi, mereka biasanya takut, karena dua bulan setelah tembakau panen, harga kubis biasanya mengalami penurunan.

“Kalau menanam, biasanya kami memetakan, mana yang lebih menguntungkan,” pungkas dia. (Red-HJ44/Foto: Jam/Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here