Ketupat Sumpil

Bagi warga Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, tentu tak heran jika Ketupat Sumpil menjadi kuliner khas Kendal yang menggoyang lidah. Sumpil, merupakan jajanan khas kaliwungu yang adanya hanya bulan-bulan tertentu saja. misalnya acara Dugderan, yang setahun sekali menjelang datangnya bulan Ramdhan. bentuknya seperti limas segitiga dan terbuat dari bahan dasar beras, dibungkus menggunakan daun bambu dengan adu sambal kelapa yang rasanya pedas manis.

Sejarah Ketupat Sumpil ini berasal dari nama sebuah hewan sejenis keong atau siput yang banyak ditemui di sungai. Hewan tersebut dalam bahasa Jawa bernama sumpil. Binatang sumpil berwarna hitam berbentuk kerucut dan agak panjang. Ukuran binatang sumpil tergolong kecil. Karena ukuran dan bentuk ketupat sumpil kecil serta bentuknya segitiga hampir mirip dengan sumpil makan makanan ini dinamai ketupat sumpil. Garis-garis horisontal pada bungkus sumpil ini juga mirip dengan garis yang ada pada binatang sumpil.

Makanan Sumpil ini juga sudah dikenal masyarakat sejak zaman Sunan Kalijaga. Makanan Sumpil di daerah Kaliwungu juga sering disajikan pada tradisi “weh-wehan” yang diselenggarakan pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW, atau biasa warga Kaliwungu mengatakan acara Ketuwinan. Makanan Sumpil tidak hanya sekedar makanan, pada Kaliwungu makanan ini memiliki sejumlah makna.

Makna tersebut diantaranya adalah bentuk segitiga dari tekstur sumpil tersebut yang melambangkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan hubungan antara sesama manusia. Tradisi weh-wehan sendiri bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar masyarakat di Kaliwungu. Berbeda dengan di Kaliwungu, ketupat sumpil di Purworejo, dan Kebumen lebih sering dihidangkan pada hari raya  Ketupat ini dianggap sebagai hidangan istimewa saat lebaran. Makanan tersebut dianggap istimewa karena Hari Raya Idul Fitri, memang hanya saat lebaran saja makanan tersebut ada.

Masyarakat Kebumen menyebut makanan ini sebagai makanan siluman yang muncul sekali dalam setahun kemudian menghilang kembali. Makanan sumpil tersebut di kabupaten temanggung biasa digunakan pada adat “kacar-kucur” pada acara pernikahan.  Makanan tersebut akan disebar dan diperebutkan oleh pengunjung.

Warga Temanggung sering menganggap makanan sumpil ini sebagai jimat dan dipercaya memiliki tuah. Sedangkan menurut kepercayaan warga Kaliwungu sendiri, makanan sumpil ini adalah makanan yang sebagimana ada disajikan pada acara-acara tertentu dan anda patut mencoba jika penasaran. (Laporan Kuliner Chintia).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here