Salah satu proses pengeringan batu bata di Desa Kembang

Pati, Harian Jateng – Bagi warga Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, nyitak boto atau mencetak batu bata sudah menjadi mata pencarian hidup dan menjadi profesi. “Ya sejak dulu sudah nyitak boto untuk mencari uang,” ujar Nihlatun Nikmah, warga Desa Kembang, Dukuhseti, Kabupaten Sabtu (22/8/2015).

Menurut perempuan yang akrab disapai Ninik tersebut, mencetak batu bata atau genteng, merupakan pekerjaan utama warga Kembang. Bahkan, dari pantauan Harian Jateng, hamper 90 persen warga Kembang membuat home industri cetak batu bata sekaligus siap setor di berbagai daerah.

Saking banyaknya warga yang membuat home industri pembuatan batu bata tersebut, banyak warga sekitar menyebut Desa Kembang sebagai “Kota Kereweng”. Tak hanya di daerah dukuh Kembang Kidul, akan tetapi di daerah Getaan, sampai Desa Kembang yang pelosok juga memproduksi batu batau dan juga genting.

“Ada yang hanya membuat sampai matang, kemudian dijual, dan ada yang hanya setengah matang, setelah dikeringkan,” beber dia.

Proses pembuatan batu bata di Desa Kembang, Dukuhseti tersebut terbilang tidak terlalu rumit. Buktinya, banyak anak-anak dan kaum hawa ikut serta nyitak boto sebagai pekerjaan yang sudah berjalan puluhan tahun yang lalu.

Batu bata siap untuk dimatangkan

Akan tetapi, meskipun banyak yang menjadikan pekerjaan pokok, nyitak boto juga hanya dijadikan sampingan belaka. Sebab, saat musim hujan, sangat susah untuk mengeringkan batu bata tersebut.

“Kalau musim kemarau seperti sangat cocok, tapi kalau pas musim hujan atau rendeng ya biasanya pada nganggur, meskipun masih ada yang tetap beroperasi mencetak batu bata,” ujar dia.

Untuk masalah harga, juga relatif terjangkau. “Untuk 1000 batu bata siap pakai, ya Rp 300.000,” beber Ninik.

Proses awal, menurut Ninik adalah dengan membeli tanah. Biasanya, tanah tersebut didapat dari berbagai daerah yang dimuat di truk. “Prosesnya beli tanah, kedua terus dikasih air, dilembutkan dan dicampur dengan rambut padi atau taek grajin atau bekas gergaji kayu,” jelasnya.

Kemudian, usai adonan batu bata dicampur dengan komposisi di atas, dilembutkan atau istilahnya diluloh. “Kalau biasanya nglulohnya pagi, kalau sudah siap didiamkan, terus sore hari dicitak dan didiamkan,” papar alumnus MA Madarijul Huda Kembang tersebut.

Usai dicetak, didiamkan atau dikeringkan, batu bata tersebut dibersihkan agar rapi dan siap untuk dibakar dan dijual. Biasanya, tak hanya di wilayah Pati, namun batu bata khas Kembang juga dikirim ke daerah Jepara, Kudus, Demak, Rembang, Blora bahkan sampai di Grobogan dan Semarang. (red-HJ45/Foto: NN/Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here