Suasana diskusi dan buka bersama

Semarang, Harian Jateng – Pilkada di Jateng 2015 butuh pemimpin miskin. Hal itu menjadi bahan diskusi yang digelar di Jalan Menorah Utara XII B Nomor 2 Semarang, Senin (22/6/2015). Diskusi tersebut diselenggarakan Harian Jateng dan juga Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng.

Beberapa wartawan Harian Jateng menggelar buka bersama dan diskusi bertajuk “Meneropong Pilkada di Jateng 2015” dengan menghadirkan Tajus Syarofi, aktivis dan mantan Ketua HMI Badko Jateng-DIY dan juga Hamidulloh Ibda, Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng.

Hadir juga pengurus Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Jateng, juga aktivis Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Cabang Semarang dan perwakilan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang.

Dalam pemaparannya, Tajus menjelaskan bahwa saat ini di beberapa daerah butuh pemimpin yang merakyat dan revolusioner. Akan tetapi, ia mengakui, bahwa saat ini biaya Pilkada membutuhkan biaya mahal.

“Kandidat Bupati atau Wakil Bupati, Walikota atau Wakil Walikota sekali-kali perlu miskin. Tapi kaya gagasan dan inovasi. Sebab, banyak pemimpin kaya harta tapi miskin gagasan,” jelas Tajus.

Menurut pria yang juga mahasiswa Pascasarjana Undip tersebut, beberapa daerah yang akan menggelar Pilkada serentak 2015 ini sudah panas.

“Kan ada Semarang, Rembang, Blora, Rembang, Kendal, Wonosobo, Grobogan dan sebagainya. Namun, mengapa masih didominasi para kandidat yang kapitalis? Sulit memang mencari pemimpin yang sosialis,” ungkap penulis buku Gagasan Kepemimpinan tersebut.

Apalagi, saat ini budaya memperkaya diri kebanyakan sudah mendera semua pemimpin. Tak hanya lingkup presiden dan gubernur, namun bupati sampai lurah sudah terjangkiti mental rakus.

Menurutnya, biaya politik saat ini sangat mahal. Sehingga, hal itu memotong kesempatan para kandidat calon bupati atau calon walikota untuk menjadi pemimpin. “Memang susah bagi kandidat yang miskin harta, namun kita harus optimis. Karena pemimpin sejati itu lahir dari rakyat, diusung rakyat, kebijakannya pro rakyat,” beber dia.

Hamidulloh Ibda Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng menjelaskan meskipun biaya politik sangat mahal, akan tetapi regulasi Pilkada 2015 saat ini berbeda dengan Pilkada tahun-tahun lalu.

“Sesuai Perpu Pilkada Nomor 1 Tahun 2014, sebenarnya secara nurmatif sudah diatur bagaimana tata cara pemasangan alat peraga kampanye. Termasuk, nanti kan baliho dari KPU. Jadi, saya kira untuk nyalon itu tak perlu modal banyak,” beber dia.

Di sisi lain, Hamidulloh Ibda juga menjelaskan, sebenarnya masalah Pilkada tak sekadar soal uang dan uang. “Memang susah, apalagi rakyat sudah terdidik untuk menikmati politik uang,” ujar penulis buku Demokrasi Setengah Hati tersebut.

Kaya atau tidak kaya, kata dia, ya maksudanya tentu harus punya modal. “Gila apa. Maksudnya miskin itu tidak mengutamakan harta dan materi, akan tetapi dia tidak menjadi harta sebagai tujuan hidup. Saya kira di Jawa Tengah butuh figur bupati dan walikota seperti itu,” jelas pria kelahiran Pati tersebut.

Oleh karena itu, lanjut dia, Pilkada yang akan digelar di beberapa kabupaten atau kota di Jateng 2015 nanti, harus menjadi momentum melahirkan pemimpin pilihan rakyat yang berjiwa asketis.

Ketua Panitia Diskusi dan Buka Bersama, Ali Zainul Sofan mengatakan terselenggaranya diskusi tersebut merupakan agenda yang digelar oleh jurnalis Harian Jateng di bulan Ramadan 2015 ini. “Alhamdulillah, diskusi dan buka puasa gelombang pertama bejalan lancar,” ujar dia. (Red-HJ34/Foto: Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here