Semarang, Harian Jateng – Kultum Ramadhan 2015, apa problem terbesar bangsa kita? Rusak moral, jawab filosof. Meninggalkan Tuhan, jawab arabis. Tidak berziarah, jawab tradisionalis. KKN, jawab akademisi.

Antikonstitusi, jawab nasionalis. Antipasar, jawab neoliberalis. Menentang ilmu barat, jawab sekuleris. Kurang berdoa, jawab juhala. Tidak sabda alam, jawab naturalis. Meninggalkan nalar, jawab cendekia.
“Jawabanku, itu semua benar tapi pinggiran, bukan subtansi,” ujar M Yudhie Haryono, Direktur Eksekutif Nusantara Centre, Senin (22/6/2015).

Sebab, kata Yudhie, yang subtansi adalah kita menjalankan negara kolonial dan melanggengkan warisan mental kolonial. Pada negara postkolonial lahirlah tradisi “for your country to overcome poverty by industrializing on the out pattern is out of the question. Certenly they need accumulation but they need to direct it into forms suitable to their own situation–Joan Robinson (1950).”

“Sebab, mempraktikkan pembangunan ala luar adalah melaksanakan cultuurstelsel yang jelas memiskinkan dan meminggirkan rakyat dan warga negara Indonesia. Akibat miskin, mereka melakukan apa yang dituduhkan di atas tadi. Begitu tuan-tuan tesisku sampai hari ini. Wassalam,” pungkasi dia. (Red-HJ45/Foto: YH).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here