Semarang, Harian Jateng –  Materi kultum Ramadhan 1436 H 2015 harus angkat Islam subtantif. Hal itu dijelaskan M Yudhie Haryono, Direktur Eksekutif Nusantara Centre dan intelektual yang konsen meneliti dan menulis buku bertajuk agama, negara dan demokrasi.

“Tentu saja Islam tidak langsung sempurna. Sebagaimana Indonesia yang juga tidak langsung menjadi. Keduanya memiliki sejarah asal-usul, pertarungan ide internal, konsolidasi, ekspansi, keruntuhan, penjajahan dan reinterpretasi,” beber dia.

Menurut penulis buku Melawan dengan Teks tersebut, semua materi yang disampaikan ustaz, kiai atau penceramah saat di TV, masjid, atau usai salat tarawih harus menyentuh dan mengakar dan mengangkat Islam substantif.

Dalam konteks Islam, kata dia, yang dihayati umatnya hari ini adalah yang residual, pinggiran dan arabis.

“Praktis, gagasan besar genealogi kelahirannya, absen dan punah. Bertransformasi ke prosedur, instan dan dangkal. Berkembanglah mazhab saleh ritual yang asosial. Sejarah yang dihadirkan tertutup menjadi salvation history,” ungkap penulis buku Memaafkan Islam tersebut kepada Harian Jateng.

Menurut Yudhie, Islam juga hanya dipeluk setengah hati saja oleh umatnya. “Ia dipeluk dalam logika distingtif yang fundamentalis. Maka islamnya berkobar-kobar dalam jenggot, korma, celana cungkring dan jilbabos. Mana tahu mereka soal scient dan inovasi kehidupan. Saat bangsa lain ke bulan, mereka cukup ke kuburan,” terang pria penggagas Komisi Ideologi Nasional tersebut.

Orang pandai, kata dia, pasti beribadah harian. “Orang jahil ngerumpi (saling mengkafirkan) ibadah kawannya. Orang cerdas menemukan solusi kehidupan,” tukas dia.

“Kini, di antara kawan-kawan muslimku, kudapati yang pertama dan kedua tapi yakin masuk suga. Jenis orang ketiga makin langka. Apalagi di bulan puasa. Begitulah rata-rata kawanku, yang tak banyak baca buku. Semoga Ramadan kalian beda, amin,” pungkas dia. (Red-HJ34/Fot: Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here