DEMAM BATU AKIK: Warga Semarang yang alih profesi asah batu akik

Semarang, Harian Jateng – Demam batu akik mengakibatkan warga Kota Semarang, Jawa Tengah beralih profesi menjadi pengrajin batu.Tak hanya di kawasan Pedurungan, namun banyak sekali warga di Gajahmungkur, Ngaliyan, Banyumanik dan sekitarnya beralih profesi yang saat ini kian marak.

Pengrajin batu akik di Sampangan Semarang, Roni (28) mengatakan pihaknya menekuni bisnis tersebut karena memanfaatkan musim. Pria yang biasanya bekerja sebagai penjual stiker ini mengakui demam batu akik di Semarang membawa dampak positif bagi para pebisnis batu akik, penjual, dan terutama pengrajin. (Baca juga: Batu Akik di Kokrosono Semarang 80 Persen Palsu).

“Ya awal-awalnya demam sih untung banyak dan pemesan juga lumayan. Namun sekarang mulai sepi, tapi menjelang Ramadan 2015 ini justru malah ramai,” ujar dia kepada Harian Jateng.

Menurut pria tersebut, banyak pengrajin batu akik dadakan memanfaatkan momen demam batu kik yang sampai detik ini masih melanda Kota Semarang. ”Saya juga heran, saat ini juga ada penjual batu akik keliling di Semarang, di daerah Kota dan Ngaliyan serta Tugu juga banyak yang keliling pakai mobil,” tukas dia.

Terpisah, pengrajin batu akik di Banyumanik Semarang, Harto (54), mengatakan dirinya menekuni usaha asah dan jual batu akik sejak November 2014 lalu. “Ya mau gimana lagi, usaha ini sangat mudah dan memakai mesin,” ujar dia kepada Harian Jateng, Senin (8/6/2015) di Semarang.

Menurutnya, usaha asah batu akik sampai bulan Juni 2015 ini masih ditekuni warga karena jumlah peminat batu akik di Semarang makin banyak. “Saya juga membuat kios gemstone dengan dua teman, jadi bisa join, selain menjual juga membuat dan melayani jasa asah batu akik dari berbagai jenis,” jelas dia saat ditemui di kiosnya.

Menurut pria kelahiran Semarang tersebut, sampai detik ini peminat batu akik di Semarang tidak menurun tapi justru bertambah. “Kios kami bukanya tidak sehari full, namun saat buka, banyak sekali warga Semarang bahkan mahasiswa asal Kudus, Demak, Pati, Rembang, Banyumas, Klaten dan Tegal sering melihat-lihat dan mesan batu akik pada saya,” ujar dia.

Hal itu menurut Harto dikarenakan animo pada batu akik makin tinggi. Apalagi di Semarang banyak sekali pameran batu akik selalu terselenggara sejak akhir 2014 lalu. (Baca juga: Info Pameran Batu Akik Terbaru di Semarang 2015).

Maka tidak heran, kata dia, meskipun jumlah toko gemstone berjubel, masih banyak yang laku dan untung. “Saya tiap hari saja minimal bisa mengantongi Rp. 200.000, kalau ramai ya bisa sampai Rp. 500.000,” tandas dia.

Dari pantauan Harian Jateng, tak hanya di kios-kios, akan tetapi di Semarang sendiri banyak penjual batu akik berjejer di jalanan. Tak hanya di sekitar wilayah Simpang Lima Semarang, Jalan Kokrosono, namun banyak pula pedagang batu akik membuka lapak di sekitar Pedurungan, kawasan Johar dan Kota Lama dan juga kawasan Barito Semarang dan sekitarnya.(Red-HJ52/Foto: Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here