Semarang, Harianjateng.com – Wacana jalur Semarang-Purwodadi-Blora menjadi jalan nasional harus ditindaklanjuti. Sebab, wacana yang pernah digulirkan oleh Kepala Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Jateng Wilayah Purwodadi, Ir Barkah Widiharsono, MT tahun 2014 lalu hanya dinilai sebagai gagasan kosong. Gagasan yang dikeluarkan pada 4 Juni 2014 lalu terkesan hanya retorika belaka.
Seperti diketahui, usulan Jalan Semarang – Purwodadi – Blora – Cepu dan Purwodadi – Solo akan jadi jalan nasional sudah muncul sejak tahun kemarin. Akan tetapi, kondisi jalan di Kabupaten Grobogan dan Blora yang jelek membuktikan bahwa langkah pemerintah belum maksimal dalam membenahi tata kelola jalan raya. Apalagi, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P3JN) tahun 2014 lalu juga sudah melakukan survei layak dan tidaknya jalan dengan rute di atas. (Baca juga: Makam RA Kartini di Rembang Pantas Jadi Wisata Edukasi Andalan Jateng).
Aryo Permana Kurniawan Ketua Umum Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Kota Semarang menilai sebenarnya hal itu bisa terwujud ketika syarat dan tata kelola jalan sudah bagus. “Kalau dibangun tol malah bagus, makanya wacana yang digulirkan tahun 2014 ini harus ditindaklanjuti, jangan hanya asal wacana saja, soalnya tiap kali ke Grobogan dan Blora selalu jadi keluhan masyarakat lantaran jalannya jelek banget,” ujar dia, di Semarang, Kamis (7/5/2015).
Sebelumnya, kata Aryo, jalan yang diusulkan akan menjadi jalan nasional tersebut sekitar 151,45 kilometer. “Wilayahnya kan jelas, mulai dari Semarang, Grobobogan, kemudian Blora, Sragen, Karanganyar dan juga Solo,” ungkap lulusan Undip tersebut. Kalau perbatasan Blora-Bojonegoro Jawa Timur malah bagus, ujar dia, kalau di sana kan pusat minyak dan bisa menjadi jalan perhubungan lintas provinsi. 
Alasan Logis
Menurut Aryo, ada beberapa alasan logis mengapa jalur tersebut dijadikan jalur nasional dan harus ditindaklanjuti. Pertama, akses di jalan-jalan tersebut sudah menjadi sumber lalu lintas di Jawa Tengah, apalagi menjelang Idul Fitri, libur lebaran, Natal dan tahun baru. Kedua, rusak dan jeleknya jalan harus dijadikan prioritas pembangungan. “Jadi nanti kalau serius dibangun, semua harus dicor sekalian, tak perlu membuat rute lagi,” tukas dia.
Ketiga, logika mengapa jalur tersebut menjadi jalur nasional karena karena volume kendaraan yang lewat diruas jalan tersebut cukup padat disebabkan banyaknya kendaraan berat maupun pribadi melewati jalur tersebut. “Hal itu menjadi manfaat dan pasti mengurangi kemacetan. Sebab, saat ini kondisi jalan di atas yang jelek itu membuat pengguna jalan lebih nyaman lewat jalur Pantura,” beber dia.
Kalau jalur Semarang-Grobogan-Blora-Solo-Karanganyar jadi jalur nasional, maka dipastikan menurut Aryo akan mengurangi kemacetan di di Pantura antara Semarang- Demak-Kudus-Pati-Rembang. “Kalau dijalankan serius, nanti jalur-jalur itu akan menjadi jalur nasional yang siap dilewati kapan saja, baik saat liburan maupun lebaran mudik,” tukas dia.
Jika memang ditindaklanjuti, beber dia, maka lebar jalan juga harus diperlebar. “Kalau awalnya hanya 6 sampai 7 meter, maka kalau bisa harus dilebarkan sampai 8 bahkan 10 meter,” tandas pria kelahiran Semarang tersebut.
Saya harap, kata dia, wacana di atas ini perlu didukung serius beberapa dinas dan utamanya Pemrov Jateng. “Ini kan wacana bagus, dan pasti mempermudah akses jalan di Jateng sebagai wahana memperlancar kegiatan industri, ekonomi, pariwisata dan perdagangan,” jelas dia.
Tak lupa, katanya, perlu pembuatan jalur tol. “Kalau tidak ada jalur tol, ya stidaknya jembatan layang atau jalur alteri agar mempermudah dan memperlancar pengguna jalan,” pungkas dia. (Red-HJ45/Foto: HI/Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here