Semarang, Harianjateng.com – Cara memperlakukan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) harus khusus dan tidak bisa disamakan dengan anak didik yang lain. Sebab, ABK itu manusia yang unik dan memiliki bakat-bakat tertentu. Oleh karena itu, kalau guru tak bisa mendeteksi bakat-bakat dan keunikan ABK, maka ia akan kesulitan dalam mendidik ABK. (Baca juga: Lowongan CPNS Jateng 2015 Harus Utamakan Guru Tidak Tetap).
Hal itu disampaikan Dian Marta Wijayanti, guru dan juga Direktur Utama Smarta School Semarang. Menurut perempuan tersebut, ABK adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan tertentu dan harus diberikan hak sepenuhnya. “Kalau haknya sama seperti anak lain, namun perlakuan harus beda,” ujar Dian yang juga asesor EGRA USAID Prioritas Jawa Tengah tersebut, Kamis (6/5/2015).
Menurut mantan pengajar di Homeschooling ANSA School Semarang tersebut, saat ini ABK sudah mendapat perhatian serius dari beberapa kalangan pendidikan. “Kalau di Semarang, kebanyakan diikutkan homeschooling,” tukas mantan guru KIR SMP Nasima Semarang tersebut.
Khusus di sini maksudnya adalah tidak bisa disepelekan dan diperlakukan seperti orang cacat. “ABK itu ya sebenarnya normal, hakikatnya dia suci, namun kadang banyak ABK disepelekan,” terang dia.
Hak Sama
Dian juga mengatakan, seharusnya orang tua tak perlu minder menyekolahkan ABK di sekolah umum. “Kan bisa di SD, SMP, SMA atau MI, MTs dan MA. Jadi tak harus di homeschooling atau kejar paket atau SLB, wong mereka juga anak-anak dan juga manusia ciptaan Tuhan,” beber dia.
Pemerintah, terutama dinas pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota juga harus memberikan hak sama kepada ABK. “Kalau masalah pemerintah itu hanya kebijakan, namun paling pokok adalah guru. Sebab, banyak guru yang belum tahu kebutuhan dasar ABK, baik yang autis, tuna rungu, dan sebagainya. Seharusnya guru paham apa kebutuhan dasar ABK, yaitu bukan materi pelajaran, tapi kenyamanan. Kalau sudah nyaman, mereka kan pasti mau belajar dan kalau sudah nyaman belajar, maka pengetahuannya juga akan mapan,” jelas lulusan terbaik PGSD Unnes tersebut.
Maka dari itu, ujar dia, guru-guru di semua sekolah baik di SD, SMP atau SMA harus tahu dan mau mempelajari dan memanusiakan ABK. “Banyak potensi yang dimiliki ABK yang bisa dikembangkan, bahkan melebihi bakat anak normal pada umumnya. Akan tetapi, mereka kadang berhenti di situ saja karena gurunya tidak tahu potensi mereka,” ujar penulis buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner tersebut.
Saya mengajak para guru di negeri ini, kata dia, untuk mencintai dan menyayangi ABK sebagaimana mestinya. “Mereka itu sama seperti anak lain, dan sebetulnya saya kurang sepakat kok ada istilah ABK itu. Tapi prinsipnya, anak normal, setengah normal maupun ABK harus mendapat hak sama dalam belajar. Jangan sampai guru membeda-bedakan antara ABK dan anak normal,” pungkas guru muda tersebut. (Red-HJ45/Foto: HI/Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here