Contoh proposal tesis media gambar kurikulum 2013 terbaru ini berjudul Penggunaan Media Gambar Sebagai Alat Bantu Hitung Berbasis Cerita Pada Kelas I Sekolah Dasar.

A Latar Belakang Masalah
Dalam konsep pendekatan scientific yang disampaikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dipaparkan minimal ada tujuh kriteria dalam pendekatan scientific. Ketujuh kriteria tersebut adalah sebagai berikut: (1) Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata; (2) Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru dan siswa terbebas dari prasangka yang serta merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis; (3) Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran; (4) Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran; (5) Mendorong dan menginspirasi siswa dalam memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran; (6) Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan; (7) Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, tetapi menarik sistem penyajiannya.
Penggunaan media pembelajaran pada kelas I sangat penting. Secara psikologis anak kelas I masih senang bermain. Maka media pembelajaran yang menarik diperlukan oleh siswa. Salah satu media yang menarik bagi siswa kelas I adalah gambar berwarna. Melalui gambar berwarna, siswa akan tertarik pada materi yang disajikan guru. Akan menarik lagi ketika gambar berwarna dikolaborasikan dengan cerita. Materi berhitung yang dianggap sulit oleh siswa akan menjadi lebih mudah. Maka penggunaan media gambar (Mega) dengan kombinasi cerita akan membantu siswa dalam materi berhitung kelas I.
B Rumusan Masalah
1 Bagaimana motivasi belajar siswa selama pembelajaran tematik menggunakan Mega?
2        Bagaimana tingkat keefektifan Mega sebagai alat bantu hitung pada siswa kelas 1?
C Tujuan
Mengetahui motivasi belajar siswa selama pembelajaran tematik menggunakan Mega
Mengukur tingkat keefektifan Mega sebagai alat bantu hitung pada siswa kelas 1
D Manfaat
 Bagi Siswa
Siswa lebih mudah memahami materi hitung pada kelas 1 dengan cara yang menyenangkan
Bagi Guru
Guru terbantu dalam menerapkan pembelajaran tematik dengan cara yang mudah
Bagi Sekolah
Sekolah terbantu dalam menerapkan kurikulum 2013
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A Kajian Teori
1 Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah kurikulum baru yang dicetuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi.
Kurikulum ini menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diterapkan sejak 2006 lalu. Dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di satu satuan pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan.Mata pelajaran pilihan yang diikuti oleh peserta didik dipilih sesuai dengan pilihan mereka.Kedua kelompok mata pelajaran tersebut (wajib dan pilihan) terutama dikembangkan dalam struktur kurikulum pendidikan menengah (SMA dan SMK) sementara itu mengingat usia dan perkembangan psikologis peserta didik usia 7 – 15 tahun maka mata pelajaran pilihan belum diberikan untuk peserta didik SD dan SMP.
Kurikulum 2013 mengajak kita semua untuk semangat dan optimis untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Kurikulum 2013 yang menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific approach) merupakan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah. Dalam konsep pendekatan scientific yang disampaikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dipaparkan minimal ada tujuh kriteria dalam pendekatan scientific. Ketujuh kriteria tersebut adalah sebagai berikut: (1) Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata; (2) Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru dan siswa terbebas dari prasangka yang serta merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis; (3) Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran; (4) Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran; (5) Mendorong dan menginspirasi siswa dalam memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran; (6) Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan; (7) Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, tetapi menarik sistem penyajiannya.
2 Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik dapat diartikan suatu kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema/topik pembahasan. Sutirjo dan Sri Istuti Mamik (2004: 6) menyatakan bahwa pembelajaran tematik merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, nilai, atau sikap pembelajaran, serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dari pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik dilakukan dengan maksud sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya materi kurikulum. Di samping itu pembelajaran tematik akan memberi peluang pembelajaran terpadu yang lebih menekankan pada partisipasi/keterlibatan siswa dalam belajar.
Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar. Dalam menerapkan dan melaksanakan pembelajaran tematik, ada beberapa prinsip dasar  yang perlu diperhatikan yaitu 1) bersifat terintegrasi dengan lingkungan, 2) bentuk belajar dirancang agar siswa menemukan tema, dan 3) efisiensi. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas berikut ini akan diurakan ketiga prinsip tersebut,  berikut ini:
 
Bersifat kontekstual atau terintegrasi dengan lingkungan. Pembelajaran yang dilakukan perlu dikemas dalam suatu format keterkaitan, maksudnya pembahasan suatu topik dikaitkan dengan kondisi yang dihadapi siswa atau ketika siswa menemukan masalah dan memecahkan masalah yang nyata dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan topik yang  dibahas.
Bentuk belajar harus dirancang agar siswa bekerja secara sungguh-sungguh untuk menemukan tema pembelajaran yang riil sekaligus mengaplikasikannya. Dalam melakukan pembelajaran tematik siswa didorong untuk mampu menemukan tema-tema yang benar-benar sesuai dengan kondisi siswa, bahkan dialami siswa.
Efisiensi. Dalam hal ini, pembelajaran tematik memiliki nilai efisiensi antara lain dalam segi waktu, beban materi, metode, penggunaan sumber belajar yang otentik sehingga dapat mencapai ketuntasan kompetensi secara tepat.
Ciri-ciri Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut yaitu; 1) berpusat pada siswa, 2) Memberikan pengalaman langsung kepada siswa, 3)  Pemisahan mata  pelajaran tidak begitu jelas, 4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran., 5) Bersifat fleksibel, 6) Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan siswa. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang karakteristik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Berpusat pada siswa. Proses pembelajaran yang dilakukan harus menempatkan siswa sebagai pusat aktivitas dan harus mampu memperkaya pengalaman belajar. Pengalaman belajar tersebut dituangkan dalam kegiatan belajar yang menggali dan mengembangkan fenomena alam di sekitar siswa.
Memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Agar pembelajaran lebih bermakna maka siswa perlu belajar secara langsung dan mengalami sendiri. Atas dasar ini maka guru perlu menciptakan kondisi yang kondusif dan memfasilitasi tumbuhnya pengalaman yang bermakna.
Pemisahan mata  pelajaran tidak begitu jelas. Mengingat  tema dikaji dari berbagai mata pelajaran dan saling keterkaitan maka  batas mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran.
Bersifat fleksibel. Pelaksanaan pembelajaran tematik tidak  terjadwal secara ketat antar mata pelajaran.
Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan siswa.
Karakteristik pembelajaran terpadu/tematik sebagai berikut: 1) pembelajaran berpusat pada anak, 2) menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan, 3) belajar melalui pengalaman langsung, 4) lebih memperhatikan proses daripada hasil semata, 5) sarat dengan muatan keterkaitan.
Pembelajaran tematik   dimaksudkan agar pembelajaran lebih bermakna dan utuh. Pembelajaran tematik ini  memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan perhatian, aktivitas belajar, dan   pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajarinya, karena pembelajarannya lebih berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung kepada siswa,   pemisahan mata  pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran., bersifat fleksibel, hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan siswa. 
Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Kata media berasal dari bahasa Latin medio atau medius. Dalam bahasa Latin, media dimaknai sebagai antara. Sedangkan dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media merupakan bentuk jamak dari medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Secara khusus, kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima. Dikaitkan dengan pembelajaran, media dimaknai sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. 
Satu hal yang perlu diingat bahwa peranan media tidak akan terlihat apabila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Secanggih apa pun media tersebut, tidak dapat dikatakan menunjang pembelajaran apabila keberadaannya menyimpang dari isi dan tujuan pembelajarannya. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sadiman, 2010).
Media Gambar (Mega)
Di antara media pembelajaran, media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Hal ini dikarenakan siswa lebih menyukai gambar dari pada tulisan, apalagi jika gambarnya dibuat dan disajikan sesuai dengan persyaratan gambar yang baik, sudah barang tentu akan menambah semangat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Di bawah ini beberapa pengertian media gambar, di antaranya:
a Media gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual kedalam bentuk dua dimensi sebagai curahan ataupun pikiran yang bentuknya bermacam-macam seperti lukisan, potret, slide, film, strip, opaque projector (Hamalik, 1994:95).
b Media gambar adalah media yang paling umum dipakai, yang merupakan bahasan umum yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana-mana (Sadiman,1996:29).
c Media gambar merupakan peniruan dari benda-benda dan pemandangan dalam hal bentuk, rupa, serta ukurannya relatif terhadap lingkungan (Soelarko,1980:3).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media gambar adalah perwujudan lambang dari hasil peniruan-peniruan benda-benda, pemandangan, curahan pikir atau ide-ide yang di visualisasikan kedalam bentuk dua dimensi. Bentuknya dapat berupa gambar situasi dan lukisan yang berhubungan dengan pokok bahasan berhitung.
Pemanfaatan media pembelajaran ada dalam komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru-siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu fungsi utama dari media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar, yakni menunjang penggunaan metode mengajar yang dipergunakan guru.
Kelebihan media gambar adalah
Sifatnya konkrit dan lebih realistis dalam memunculkan pokok masalah, jika dibandingkan dengan bahasa verbal.
Dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.
Dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita.
Memperjelas masalah dalam bidang apa saja dan untuk semua orang tanpa memandang umur sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman.
Harganya murah dan mudah didapat serta digunakan (Sadiman, 1996:31).
Adapun kelemahan media gambar adalah
Hanya menampilkan persepsi indera mata, ukurannya terbatas hanya dapat terlihat oleh sekelompok siswa
Gambar diintepretasikan secara personal dan subyektif.
Gambar disajikan dalam ukuran yang sangat kecil, sehingga kurang efektif dalam pembelajaran (Rahadi, 2003:27).
Menurut Sudjana (2001:12) tentang bagaimana siswa belajar melalui gambar gambar adalah sebagai berikut:
Ilustrasi gambar merupakan perangkat pengajaran yang dapat menarik minat belajar siswa secara efektif.
Ilustrasi gambar merupakan perangkat tingkat abstrak yang dapat ditafsirkan berdasarkan pengalaman dimasa lalu, melalui penafsiran kata-kata.
Ilustrasi gambar membantu para siswa membaca buku pelajaran terutama dalam menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi teks yang menyertainya.
Dalam booklet, pada umumnya anak-anak lebih menyukai setengah atau satu halaman penuh bergambar, disertai beberapa petunjuk yang jelas.
Ilustrasi gambar isinya harus dikaitkan dengan kehidupan nyata, agar minat para siswa menjadi efektif.
Ilustrasi gambar isinya hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan gerakan mata pengamat, dan bagian-bagian yang paling penting dari ilustrasi itu harus dipusatkan dibagian sebelah kiri atas medan gambar.
Dengan demikian media gambar merupakan salah satu teknik media pembelajaran yang efektif karena mengkombinasikan fakta dan gagasan secara jelas, kuat dan terpadu melalui pengungkapan kata-kata dan gambar.
Kajian Empiris
Menurut penelitian Pasaribu (2013) dengan judul “Penggunaan Media Gambar Pada Tema Tempat Umum untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa Pada Pembelajaran Tematik Siswa Kelas II SD Swasta HKBP II Belawan menunjukkan bahwa pemberian tugas dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Swasta HKBP II Belawan”, dengan demikian dapat dikatakan penerapan media pembelajaran berupa media gambar dapat meningkat hasil belajar siswa. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Pada siklus I pelaksanaan pembelajaran hanya menjelaskan materi tempat umum, dan pada siklus II menjelaskan materi dengan menggunakan media gambar serta menyebutkan contoh-contoh tempat umum lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwapada kondisi awal nilai rata-rata kelas 39,66 (20%), pada siklus I nilai rata-rata naik yaitu 59 (46,66%) sedangkan pada siklus II terjadi kenaikan signifikan, nilai skor rata-rata naik menjadi 69 (80%). 
Pada penelitian yang lain, Mustafa Albayrak (2010) pada penelitiannya yang berjudul “An experimental study on preventing first graders from finger counting in basic calculations” menyatakan bahwa Rote counting should be made meaningful with the help of objects in the environment and counting tools by establishing one to one correspondence between objects and numerals. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa dalam materi berhitung anak memerlukan benda riil atau semi riil untuk mempermudah pemahamannya.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Desain Penelitian
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2007: 13) data pada penelitian kualitatif berupa angka-angka dan dianalisis menggunakan statistik.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental kuasi. Menurut Nazir (2005: 63) penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol. Tujuan dari pemilihan penelitian eksperimen adalah untuk menguji pengaruh suatu tindakan terhadap tingkah laku subjek penelitian.
Peneliti menetapkan kelas eksperimen dan kelas control dengan karakteristik yang sama atau relatif sama. Peneliti akan memberikan tindakan pada kelas eksperimen sedangkan kelas control diberikan keadaan seperti biasanya.
Gambaran mengenai rancangan nonequivalent control group design (Sugiyono, 2007: 116) adalah sebagai berikut:
01 X 02
03     04
 Gambar 1. Rancangan Nonequivalent Control Group Design
Keterangan:
O1 : Pengukuran kemampuan awal kelompok eksperimen
O2 : Pengukuran kemampuan akhir kelompok eksperimen
X : Pemberian perlakuan
O3 : Pengukuran kemampuan awal kelompok kontrol
O4 : Pengukuran kemampuan akhir kelompok kontrol
Adapun langkah-langkah penelitian tampak dalam bagan berikut:
Pretes – Kelompok eksperimen belajar berhitung dengan dibantu media gambar dan ceritaKelompok kontrol belajar berhitung dengan media gambar biasa – Postes
Gambar 2. Langkah-langkah penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di SDN Sampangan 01 Kota Semarang yang beralamatkan di Jalan Menoreh Tengah III Nomor 23 Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang.
Waktu Penelitian
Penelitian diawali dengan surveii pada bulan Desember 2014 sampai Januari 2015. Pembuatan instrumen dilaksanakan pada bulan Februari 2015 dengan tujuan akan digunakan pada semester genap tahun ajaran 2014/2015.
Populasi Penelitian
Menurut Nurul Zuriah (2007: 116) populasi merupakan seluruh data yang menjadi perhatian peneliti.  Jadi populasi penelitian dapat disimpulkan sebagai subjek penelitian yang mengenainya dapat diperoleh dari data yang dipermasalahkan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Sampangan 01 Kota Semarang yang berjumlah 80 siswa dan dibagi dalam dua kelas yaitu kelas IA dan IB.
Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti telah menyusun kisi-kisi yang menjelaskan hubungan antar variabel yang akan diteliti.
Tabel 1. Kisi-kisi Hubungan Variabel, Sumber data, Metode, dan Instrumen Penelitian
No
Variabel Penelitian
Sumber Data
Metode
Instrumen
1.
Media gambar berbasis cerita
Aktivitas siswa
Observasi
Rating scale
2.
Hasil belajar
Daftar nilai
Tes
Soal Tes
Observasi
Peneliti melakukan observasi langsung tidak terstuktur, yaitu observais yang tidak menggunakan instrument yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan (Sugiyono, 2007: 205). Adapun kisi-kisi pedoman observasi siswa adalah sebagai berikut:
No
Indikator
Skor
Keterangan
1.
Perhatian
1, 2, 3, 4
4 : sangat baik
2.
Kesenangan
3 : baik
3.
Interaksi dengan guru
2 : cukup baik
4.
Keaktifan
1 : kurang baik
Tes
Tes merupakan prosedur sistematik di mana individual yang di tes direpresentasikan dengan suatu set stimuli jawaban mereka yang dapat menunjukkan ke dalam angka (Sukardi, 2007: 138). Adapun tes yang digunakan peneliti adalah tes menghitung angka. Tugas ini digunakan pada saat pre-test dan post-test bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal dan kemampuan akhir.
Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini data diperoleh dari mulai observasi langsung pada obyek penelitian untuk mengungkapkan sejauh mana peningkatan pemahaman siswa. Observasi langsung dilaksanakan pada kondisi awal pembelajaran di dalam kelas dan pada saat diberikan perlakuan.
Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Pada akhir pembelajaran dilakukan penilaian terhadap hasil tes yang dicapai oleh peserta didik. Dalam penelitian ini, setelah data dari nilai tes awal (pre-test) dari kelas eksperimen dan kelas kontrol telah terkumpul, maka langkah awal adalah data hasil belajar kedua kelas ditabulasikan pada tabel. Kemudian langkah selanjutnya adalah membandingkan nilai rata-rata (mean) yang dimiliki oleh kelas eksperimen dan kelas kontrol. Menurut Tulus Winarsunu (2006 : 29) mean adalah angka yang diperoleh dengan membagi jumlah nilai (X) dengan jumlah individu atau jumlah responden (N). Sedangkan menurut Sugiyono (2007:42) mean merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-rata dari kelompok tersebut.
Daftar Pustaka
Albayrak, Mustafa. 2010. An experimental study on preventing first graders from finger counting in basic calculations. Turkey: Atatürk University, Erzurum.
Hamalik. 1994. Media Pendidikan. Bandung : Citra Aditya Bakti
Kemdikbud. 2013. Pendekatan Scientific (Ilmiah) dalamPembelajaran. Jakarta: Pusbangprodik.
Kemdikbud. 2013. Pengembangan Kurikulum 2013. PaparanMendikbud dalam Sosialisasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kemdikbud
Mulyasa,2013. Pengembangan & Implementasi Kurikum 2013. Bandung : Rosda Karya.
Pasaribu. 2013. Penggunaan Media Gambar Pada Tema Tempat Umum untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa Pada Pembelajaran Tematik Siswa Kelas II SD Swasta HKBP II Belawan menunjukkan bahwa pemberian tugas dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Swasta HKBP II Belawan. Sumatera: Universitas Bung Hatta.
Poerwanti, Loeloek Endah , Sofyan Amri. 2013. Panduan Memahami Kurikuum 2013. Jakarta :Prestasi Pustaka.
Rahadi, Ansto. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Dikjen Dikti Depdikbud
Sadiman, Arif. 1996. Media Pendidikan. Jakarta: Raja
—————-, Arief, dkk. 2010. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Soelarko. 1980. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud
Sudjana. 2001. Media Pengajaran. Jakarta : Sinar Baru Algensindo
Sukardi. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Bumi Aksara.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Sutirjo dan Sri Istuti Mamik.  2005. Tematik: Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004. Malang: Bayumedia Publishing.
Zuriah, Nurul. 2007. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Bumi Aksara.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_2013 (Diakses pada 18 Juni 2013, 09.20 WIB).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here