Perayaan Hari Kartini tahun 2015 dirayakan hari ini, Selasa 21 April 2015. Banyak ekspresi cinta yang diungkapkan kaum perempuan untuk mencintai Kartini. Seperti menggelar lomba menari, fashion show, seminar, lomba kebaya, talk show dan sebagainya. Namun bagi Violita Sheila Zivana penari asal Kota Semarang yang saat ini menjadi mahasiswi PGSD Unnes, ia punya cara sendiri untuk mencintai R.A Kartini sebagai sosok pahlawan nasional dari kaum perempuan.

Ya,Violita Sheila Zivana mecintai Kartini melalui seni tari yang sampai detik masih ia lakukan, baik dari segi latihan maupun saat pentas di berbagai tempat. Mahasiswi yang lahir pada 1 Mei 1995 tersebut merupakan salah satu mahasiswi PGSD Unnes yang terus menggeluti dunia seni tari. Bahkan, ia termotivasi untuk mengampanyekan tari tradisional Jawa menuju tari yang diakui tingkat internasional.
Sheila, begitu sapaannya, sudah menggondol berbagai kejuaraan dalam bidang seni dan tari. Ia aktif dan menggeluti dunia modelling dan juga seni tari. Tercatat, ia pernah mendapat Juara 2 Tari Merak berpasangan saa kecil. Tahun 2003 ia Juara Harapan 1 Putri Kartini  dan 2004 ia mendapat Juara 2 Putri Kartini.  
Juara Harapan 1 Lomba Busana Muslim juga pernah ia dapatkan dan menjadi spiritnya dalam melangkahkan karier dunia seni. Perempuan ini juga pernah mendapat Juara 3 Mayoret Terbaik. Menginjak di SMP, ia pernah aktif di pramuka dan pernah mengikuti Thailand Internasional Camporee 2008 mewakili Indonesia.
Banyak cara untuk mencintai Kartini. Bisa mengambil spirit lewat mempelajari kisah dan perjuangan Kartini, bisa juga meneladani semua peran dan jasa-jasa Kartini. Hal itu semua dilakukan dalam rangka menjadi Kartini di era modern seperti ini. Lalu, apa yang membuat Sheila mencintai Kartini?
Cintai Kartini Lewat Seni Tari
Menurut dara alumnus SMA 1 Ungaran tersebut, Karini membawa perubahan besar dalam dunia perempuan. “Karna berkat Kartini, sekarang kita semua kaum hawa bebas berekspresi dan beraktivitas,” ujarnya kepada Harianjateng.com, Selasa (21/4/2015).
Tunjukkan apa yang kita miliki, kata dia, dengan percaya diri dalam kegiatan positif. “Salah satu contoh berekspresi dengan tarian, dengan tarian pula menunjukkan bahwa kita cinta Tanah Air,” tegas penari muda tersebut.
Menurut dia, lunturkan budaya yang menganggap wanita lebih rendah derajatnya ketimbang pria  harus diubah. “Kita perempuan kadang secara kultur dianggap di bawah laki-laki, dan sekarang sudah saatnya mereka tahu jika kita ini sejajar, buktikan dan tunjukkan bahwa kita bisa sejajar dengan mereka,” tegas Sheila.
Salah satu spirit Kartini adalah gerakan emansipasi wanita. Dalam spirit ini, perempuan harus memotivasi diri sendiri untuk berkarier, berkarya dan melanjutkan perjuangan Kartini lewat apa saja. Bisa lewat pendidikan, seni, bisnis dan lewat berkarya dan bekerja sebisanya. Intinya, jangan sampai perempuan rendah diri dan rendah hati saat berhadapan dengan lak-laki. Sebab, bukankah perempuan adalah tiang negara?
Bagi Sheila, menggeluti dunia seni tari sudah menjadi wujud cinta terhadap pahlawan perempuan, yaitu R.A Kartini. Tak cukup sekadar mengenalnya, namun juga harus diimbangi dengan spirit dan gerakan nyata, salah satunya menggeluti dunia tari yang itu menjadi wujud cinta Tanah Air dan mempertahankan kearifan lokal.
Tari Sebagai Refreshing
Bagi sebagian orang, menari bisa menjadi profit dan mendapatkan materi. Namun, Sheila menilai bahwa tari sebenarnya bisa menjadi katarsis dan pelepas penat bahkan bisa menjadi wahana refreshing.
“Melalui tarian, saya menunjukkan aktivitas yang positif dalam mengisi keluangan dan dapat menuangkan kreativitas,” terang dia.
 Entah mengapa, lanjut Sheila, saya tidak pernah bosan dengan menari. Menari sudah melekat dalam kehidupan, dengan menari bisa mengurangi beban dalam menghadapi tugas tugas kuliah, ya bisa dibilang refreshing,” tukasnya.
Hal itulah yang membuat Sheila mempertahankan hobinya tersebut sejak kecil sampai ia duduk di dunia pendidikan kampus. Apalagi, gempuran globalisasi kadang menjadikan perempuan Indonesia lupa terhadap budaya mereka sendiri.
Spirit Kartini, adalah spirit mencitai budaya Indonesia. “Alangkah baiknya jika hari Kartini tidak hanya merayakan dengan atribut pakaian daerah saja,” harap Sheila.
Biasanya, ujar dia, kegiatan di sekolah-sekolah diisi dengan memakai pakaian adat, lalu terdapat acara peragaan busana dan penilaiannya berdasakan apa yang dipakai dan penilaian make up. Padahal peringatan Hari Kartini 2015 ini bukan ajang untuk berlomba-lomba dalam kecantikan, namun lebih memperkenalkan kepada anak -anak bagaimana perjuangan Kartini dalam menjujung martabat wanita,” pungkas Sheila.
(Laporan Harian Jateng H. Ibda/Foto: Sheila).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here